Enam Puluh Tiga (63) Ijazah Siswa-Siswi SMKN 5 Tahun 2023 Masih Di Sekolah

admin
Img 20240429 Wa0227 Copy 838x629

Bojonegoro – Delapan puluh lima (85) persen orang tua di Kabupaten Bojonegoro, rata-rata mengalami ketakutan yang sama. Saat tiba kelulusan akan ada waktunya para orang tua harus bersusah payah memenuhi uang komite yang menunggak.

Agar ijazah anak-anaknya tidak ditahan disekolah, seperti di tahun sebelumnya. Diketahui dari data yang dihimpun media ini ada 63 ijazah di tahun 2023 yang masih disekolah.

[irp]

[irp]

[irp]

Nanang selaku Waka Sekolah’ menjelaskan, memang masih ada ijazah sebanyak 63 di tahun 2023 yang masih disekolah. Untuk awalnya ada 92 ijazah tetapi sudah banyak yang diambil jadi tinggal 63 ijazah.

“Tetapi kami pihak sekolah sudah memberikan himbauan dan juga surat kepada pihak siswa dan keluarga agar segera mengambil ijazah. Dan kami pihak sekolah sudah berusaha mengantar ke rumahnya siswa yang kami ketahui.

Lebih jelas ungkap Nanang, untuk tahun 2024 ini ijazah masih dalam pengajuan. Karena kami juga mengajukan blangko ijazah. Untuk  kelulusan di bulan mei, tetapi ijazah baru keluar sekitar bulan Juni.

“Untuk tahun ini saya merasa pasti ada ijazah lagi yang di sekolah, karena siswa kami sudah banyak yang kerja di luar kota. Kalaupun orang tua siswa menyimpulkan bahwa ijazahnya akan ditahan karena tunggakan itu tidak benar, kami pihak sekolah akan memberikan ijazah Tampa ada embel-embel lainnya, tambahnya.

Nanang juga menjelaskan, berbeda lagi jika anak-anak ada yang menghilang kan buku paket yang dipinjamkan sekolah. Pasti ijazahnya akan kami tahan, karena buku itukan aset negara jadi wajib siswa Menganti buku tersebut, tandasnya.

Agung salah satu orang tua siswa SMKN 5 yang merasakan betapa sudah payahnya ia harus berusaha melunasi tunggakan uang bulanan. Ia merasa takut jika tidak segera di lunasi maka ijazah anaknya akan di tahan sekolah, karena tahun 2023 ijazah anaknya yang pertama sempat tertahan 2 bulan.

“Ia juga menjelaskan masih banyak uang sumbangan lainnya, seperti uang sumbangan untuk insidental setiap tahunnya, uang SPP tiap bulannya. Ia juga harus menabung sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, agar anaknya bisa membayar tiap bulan.

Hal sama diungkapkan oleh Sebut saja Vina menjelaskan, memang sulit untuk bisa terlepas dari beban pembayaran yang berbasis dengan kata “KOMITE”. Ya susah saja, tidak bisa di jelaskan secara rinci tetapi jika sudah atas nama komite memang susah di hapuskan.(Tim/red)

Kontribusi liputan: Laela.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *