oleh

Kasubdit Keswima Unesa Ungkap Ciri Komunitas Diskusi Kelompok Intoleran Radikal

-Nasional-29 views

Surabaya – Organisasi dan komunitas diskusi penting untuk mengembangkan pola pikir kritis mahasiswa. Namun, mahasiswa baru perlu berhati-hati dalam memilih komunitas diskusi, terutama yang bernuansa keagamaan.

Hal ini disampaikan oleh Ahmad Basri, Kasubdit Keswima Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Surabaya, kamis (26/10/2023). Ia mengatakan, mahasiswa baru perlu mencermati isi kajian dan model ajakan komunitas tersebut.

Baca Juga  Polres Malang Dapat Kunjungan Deputi KemenPAN RB RI

Baca Juga  Ketua AJIB Tegaskan Anggotanya, Jangan Minta THR Sama Instansi, Lembaga Negara Atau Perusahaan

Ahmad Basri menjelaskan mengikuti organisasi dan komunitas diskusi bagi mahasiswa itu penting untuk mengembangkan pola pikir kritis terhadap problem yang ada di masyarakat. Selanjutnya ikut memberikan saran dan gagasan untuk pemecahan masalah yang ada. Karena karakter berpikir kritis inilah sebagai ciri khas mahasiswa dan harus terus dikembangkan sesuai bakat dan minat mahasiswa. Konteks ini termasuk untuk mahasiswa yang ingin mengikuti komunitas bakat dan minat keagamaan Islam atau komunitas agama lainnya.

Namun begitu, ia mengingatkan bagi mahasiswa baru harus tau bagaimana memilih organisasi dan tempat kajian yang baik dan berwawasan kebangsaan.

“Mahasiswa baru (Maba) perlu mencermati isi kajian dan model ajakan komunitas tersebut. Seringkali ajakan mengarah pada pemahaman yang tidak lazim di masyarakat maka perlu waspada”

Baca Juga  Secara Virtual , Kapolri Pimpin Rakor Pengamanan dan Lintas Sektoral Bersama Forkopimda Jatim

“Lebih baik memilih komunitas kajian yang sesuai atau memiliki sanad keilmuan. Kajian yang tidak benci (anti) terhadap negara, nasionalisme, keberagaman masyarakat, dan taat pada ulil amri adalah kajian yang perlu diikuti” ujar Basri.

Lalu apa saja ciri ciri bahwa sebuah organisasi atau komunitas diskusi mengarah ke pemahaman radikal atau intoleransi sehingga perlu diwaspadai, Basri yang juga salah satu tim penulis buku “Menjerat Teror(isme): Eks-napiter Bicara, Keluarga Bersaksi” ini pun memberikan penjelasan secara rinci.

“Jika isi kajian atau diskusi mengarah kepada ajakan yang jauh dari semangat nasionalisme, seringkali sekedar menyalahkan pemerintah, anti pemerintah atau menganggap pemerintah taghut, cenderung menganggap benar sendiri, bahkan terkadang mengajak jihad yang dimaknai perang semata maka beberapa ciri tersebut berpotensi pada kelompok intoleran, perlu diwaspadai.” urainya.

Baca Juga  Ketua AJIB Tegaskan Anggotanya, Jangan Minta THR Sama Instansi, Lembaga Negara Atau Perusahaan

Karena itu BasriĀ  menghimbau sebisa mungkin para mahasiswa baru menghindari komunitas tersebut tanpa memutus tali silaturrohim sebagai sesama mahasiswa, bahkan jika mampu karena memiliki dasar keagamaan dan keilmuan tentang tata cara bernegara yang mumpuni bisa mengajak mereka kembali pada jalan manusia Indonesia seutuhnya.

Selanjutnya apa yang perlu dilakukan kampus untuk meminimalisir atau mencegah mahasiswanya agar tidak salah memilih komunitas komunitas kajian, Basri berpendapat bahwa Kampus baik sebagai entitas pejabat kampus maupun sebagai dosen, tenaga pendidik, dan mahasiswa perlu membentuk unit yang mengawal ideologi.

“Selain unit yang mengawal ideologi, antar komponen yang berada di kampus saling peka dan mengingatkan jika ada indikasi komunitas yang mengarah pada kelompok intoleran bahkan radikal”

Baca Juga  Pusat Pembinaan Ideologi LPPM Universitas Negeri Surabaya Gelar Webinar , Tangkal Paham Radikalisme dan Terorisme

Selanjutnya harus ada sosialisasi kepada mahasiswa, khususnya Maba, perlu diintensifkan baik secara terprogram maupun ketika ada temuan/laporan dari warga kampus.

“Prinsipnya bahwa pencegahan lebih diutaman ketimbang menyelesaikan masalah ketika ada kelompok yang menyimpang. Kegiatan-kegiatan mahasiswa dan dosen bertema ideologi Pancasila, nasionalisme, komunitas keagamaan yang toleran, bahkan kesibukan dalam bidang riset, penalaran, dan bakat minat perlu didukung agar mahasiswa tidak sampai terjebak pada komunitas intoleran. Kolaborasi antar stakeholder menjadi langkah utama pencegahannya” pungkas Basri.(red)

Komentar

Tinggalkan Balasan