oleh

Menunggu Semar, Ironi Petani di Tengah Pandemi

-Ragam-1 views

Foto- Para petani saat tanam padi

Oleh; Muhammad fajrul falakh
UIN Walisongo Semarang

Manusia dan kebudayaan mempunyai terikatan, keduanya  tak dapat terpisahkan,  karena mereka secara bersama-sama menyusun kehidupan. Manusia melahirkan, menciptakan, menumbuhkan, dan mengembangkan kebudayaan. Bisa diambil penjelasan jika  tak ada manusia tanpa kebudayaan,  sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa manusia, dan tak ada masyarakat tanpa kebudayaan, tak ada kebudayaan tanpa masyarakat.

(Kistanto, 2015), Kebudayaan sendiri merupakan sesuatu yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Hewan sama-sama hidup, makan, beranak tapi mereka tak berbudaya. Malaikat rajin dan tekun beribadah dalam menjalankan perintah Tuhan tapi mereka tidak berbudaya, sedemikian juga jin, setan, iblis dan para makhluk halus lain mereka semua tidak berbudaya. Disini manusia akan tetap menjadi manusia ketika masih berbudaya.

Berbicara tentang budaya, di dalam buku Semar Gugat  di Temanggung karya  Mohammad Sobary, dijelaskan bahwa  sudah sekian lama nilai kelokalan kian terkikis oleh arus zaman, yang dibawa oleh nilai “keglobalan” yang mana diakibatkan oleh dampak kolonialisme.

Kolonialisme disini berbeda dengan kolonialisme zaman dahulu yang mana menjajah dengan kekerasan fisik. Melainkan penjajahan baru dalam bentuk fikiran yang akhirnya merubah cara pandang kita menilai benda-benda luar negri sebagai nilai global dan bahkan mampu mengangkat status social dalam hidup manusia jika mengkonsumsinya.

Pada zaman saat ini, dalam memandang produk local  hanya membuat kita minder dan akhirnya akan menimbulkan suatu realitas kelokalan  sebagai suatu produk atau hal yang ndeso. Hal tersebut adalah suatu kelemahan kita, kita harus segera membenahi realitas diatas, dengan cara memajukan kualitas, sehingga mampu untuk bersaing dengan negara-negara yang mana katanya menarik hati para kalangan masyarakat modern saat ini.

Baca Juga  Soal Polemik PPP Bojonegoro, Menyita Perhatian Pengurus HIMMA Sarang Rembang

Melihat pada krisis pandemi seperti ini, isu ketahanan pangan menjadi sesuatu yang masalah yang mana beberapa pihak memprediksi juga menimbulkan  ancaman krisis pangan. Petani, justru menjadi  pihak paling terdampak dalam ancaman krisis ketahanan pangan. Padahal petani  seharusnya merupakan pemasok makanan yang mana akan  mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19 seperti ini. Tapi  ironisnya  sudah menjadi fakta yang terjadi setiap hari adalah penurunan harga pangan hingga pada level yang sangat rendah di berbagai wilayah di Indonesia terutama di Pulau Jawa.

(Dian Wahyu Utami, 2020) Anjloknya harga jual produk pertanian sangat merugikan petani di tengah pandemi, petani yang tadinya akan  menjadi  pihak penyedia pangan bagi kelangsungan hidup penduduk di tengah pandemi justru terancam mengalami kerugian yang berakibat pada ketidakmampuan membeli bibit atau pun hal-hal yang diperlukan pada tanaman mereka. Padahal, masyarakat tetap membeli  bibit-bibit tersebut dengan harga yang normal. 

Menurut Faisal Basri, impor pangan Indonesia dari China cukup besar. Faisal menjelaskan bahwa Indonesia juga impor sayur dan buah dari China. Bahkan menurut Faisal, hampir 67,5 persen sayur yang ada di Indonesia impor dari China (Kumparan, 22 Mei 2020).

Hal ini menimbulkan  rasa kecewa yang tidak bisa disembunyikan oleh para petani.  Para petani seakan tak bisa menumpahkan kepedihan mereka atas dasar ketidaksaran para pemimpin. Indra perasa dan indra penglihatan para pemimpin saat ini kurang peka hingga mereka tidak bisa merasa dan melihat kenyataan langsung yang terjadi di lapangan.

Saat ini, berharap Semar hadir turun ke bumi. Dalam buku Semar Gugat di Temanggung Sobari menceritakan Semar menjadi penolong suatu kelompok bernama pandawa. Pandawa tidak mendapatkan ketidakadilan dari tatanan pemerintah. Semar yang iba menempuh dengan cara menolong. Diambil lah jalan dialog. Semar berdialog dengan Batara Guru yang merupakan pemimpin Dewa. Berbekal kebenaran Semar akhirnya berhasil meruntuhkan ketidakadilan itu.
Dengan rupa yang tebal dan kepala berkuncung, serta badan pendek, perut buncit bergelambir, dengan susu yang merosot, Semar disini bukan lah seekor badut. Begitulah  Goenawan Mohamad menggambarkan sosok semar dalam cerita Semar dan si Bodor.

Baca Juga  Keindahan Wisata Kabupaten Sampang Bikin Turis Asing Betah dan Takjub

Walau wajah-wajah pemimpin saat ini tak mampu menunjukkan jati diri keadilan dan kebenaran, namun Semar sanggup memunculkannya seperti masalah   Batara Guru yang tidak bisa menunjukkan keadilan. Karena semar di sini  akan menampilkan arti nilai kehidupan, arti nilai kebersamaan, arti keadilan bahkan kebenanaran sekalipun. Goenawan Mohamad dalam cerita Semar dan si Bodor, menceritakan bahwa cerita Semar disini bukan tanpa sebab semata, akan tetapi tersirat lambang perlawanan yang tak diucapkan oleh para petani terhadap para penguasa. Terjadinya ketakaburan kekuasaan terjadi, disitu Semar turun untuk memberi jawaban dengan rasa kepeduliannya.

Kesenian  disini apapun  bentuknya dapat menjadi alat perlawanan seperti halnya lakon semar di atas.  Seperti hal nya kesenian dapat mengontrol agresivitas massa, agresivitas di sini terjadi karena kesenjangan antara kesadaran perilaku. Bisa diambil contoh misalnya demonstrasi mahasiswa pada 1966 tampak lebih teratur, kurang berdarah  dan lebih “berbudaya” daripada demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa 1998.

Mengapa demikian berbeda? Karena pada demonstrasi tahun 1966 ada partisipasi aktif dari para penyair seperti Taufiq Ismail, A. Wahid Situmeang dan Mansjur Samin. Orang-orang manifestasi kebudayaan juga secara aktif terlibat  di dalamnya sehingga wajah politik juga menjadi wajah budaya. (Kuntowijoyo, 2019).

Pada zaman kebudayaan saat ini, jarang sekali  kita melihat secara keseluruhan gaya hiburan melalui seni-seni  untuk mendorong kita bersikap kritis dengan memberikan sarana hiburan untuk meluapkan segala bentuk perlawanan melalui adegan seni secara terbuka terutama di media televisi. Aksi yang ditampilkan di ranah televis cenderung monoton, bahkan  menjorok ke hal yang tidak berfaedah.  Disinilah peran kita,  perlu secara kritis melihat fenomena apakah kita telah memberikan suatu lingkup pengetahuan untuk sadar dan melihat berbagai bentuk ketidak adilan, kesengsaraan, dan kesenjangan antara kekuasaan dengan rakyatnya.

Baca Juga  PKD Desa Prayungan Apresiasi Kinerja PPS, Dalam Rapat Pleno (DPHP) Pemilu 2024

Sampai kapan kita harus menunggu keadilan dan kebenaran tercipta dari semua elemen baik dari penguasa maupun rakyat tanpa menunggu Semar?  Kisah Semar mencoba untuk mengembalikan kesadaran kita, tentang arti membela dan memihak. Arti kata membela tidak berarti menentang secara keras dan kepas dari aturan itu sendiri. Hal itu juga berlaku pada arti memihak yang mana tidak berat pada kepentingan tertentu. Kepentingan Semar disini berasaskan hal yang mulia. Ia mengerti siapa yang dibela. Ia sadar kepada  siapa ia memihak. Semar mengajarkan kepada kita untuk mengutamakan sisi kemanusiaan, keadilan dan kebenarannya.

Tentu saja yang masih harus menjadi pikiran kita bersama ialah bagaimana suatu pembudayaan di kalangan modern saat ini perlu di implementasikan. Sehingga akan menjadi manusia yang berbudaya

Rererensi:
Kistanto, N. H. (2015). Tentang konsep kebudayaan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 10(2).
Kuntowijoyo (2019). Selamat tinggal mitos, selamat datang realitas esai-esai budaya dan politik. Yogyakarta :IRCiSoD.
Sobary, Mohammad. 2014. 

Esai-esai Kebudayaan: Semar Gugat di Temanggung. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Mohamad, Goenawan. (2018). Seni, Politik, Pembebasan. Tangerang Selatan: IRCiSoD.
https://kumparan.com/kumparanbisnis/saat-pandemi-indonesia-masih-ketergantungan-impor-sayur-dan-buah-dari-china-1tStc2GaSXl/full diakses pada tanggal 10 agustus  2020
ependudukan.lipi.go.id/id/berita/53-mencatatcovid19/879-ketahanan-pangan-dan-ironi-petani-di-tengah-pandemi-covid-19 diakses pada tanggal 05 september 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan